Seleb hidup pas pasan

Seleb yang Hidup Pas-pasan di Usia Tua
Terkait Konten

Berkat pengabdiannya kepada anak-anak Indonesia, pada 23 November 2012 dirinya mendapat Anugerah Seni dari Departemen Pendidikan Nasional berupa uang pensiunan setiap bulan sebesar Rp2,5 juta.Lihat Foto

Berkat pengabdiannya kepada anak-anak Indonesia, pada 23 November 2012 dirinya mendapat …

Oleh: Samuel Mink

DUNIA selebritis biasanya identik dengan semua yang serba glamour. Tapi tidak bagi beberapa artis seperti mantan “Lady Rocker” Laela Sari yang hidup dalam keterbatasan di kawasan kumuh Jakarta Pusat.

Laela Sari mengaku terpaksa menjalani hidup pas-pasan dan tinggal di sebuah rumah di kawasan kumuh gang sempit di bilangan Jakarta Pusat. “Sehari-hari emak ngandelin panggilan aja, kadang ngutang di warung depan,” tuturnya lirih.

Namun meski hidup seadanya sebagai selebritas, Laela tak pernah berkecil hati. Sejak ditinggal sang suami, Laela tinggal ditemani anak dan cucunya. Kini di sisa usia menuju 78 tahun, Laela hanya berharap cucu-cucunya kelak bisa hidup lebih layak.

Wanita kelahiran Padang Panjang, 4 November 1935 ini tentu bukan sekadar artis timbul kemudian tenggelam. Sepanjang karirnya, artis tiga zaman ini sudah bermain untuk 20 film. Sayang, prestasinya itu terkubur seiring perjalanan waktu.

Selain Laela ada juga artis atau pesinetron Hendrik Ceper yang hingga kini masih tinggal di rumah kontrakan di kawasan Bogor, Jawa Barat.

Hendrik yang kerap melakoni sejumlah peran di FTV ini mengaku hanya mengandalkan kemampuan aktingnya di depan kamera. Honor main di sebuah film, menurutnya cukup untuk membiayai hidupnya bersama sang istri, meski kadang dirinya keteter kala job akting sepi.

Bahkan hendrik sempat ditinggal sang istri lantaran jarang mendapatkan pekerjaan akting.
“Ya lumayanlah, yang penting bisa tinggal dan makan. Kalo lagi sepi memang cukup repot ngutang sana-sini,” tuturnya sambil terkekeh.

Kisah memilukan juga dialami Pak Raden alias Drs Suyadi, pencipta karakter tokoh Si Unyil dan kawan-kawan yang popular di era tahun 1970-an. Hidupnya cukup mengenaskan di usianya yang sudah uzur.

Alumni Seni Rupa Institut Teknologi Bandung itu tak mendapat royalti dari semua ciptaannya. Itulah buah yang diterima dari kontrak yang ditandatanganinya, karena dia hanya dibayar sebagai pengisi suara.

Kini, pria yang pernah belajar animasi di Prancis itu terus bergelut dengan usia tuanya. Namun goresan tangannya di atas kanvas masih belum pupus walau terasa makin lamban, seperti halnya orang mengingat kembali karya dan namanya.

Tentang adibmasruhan

ingin selalu membuat orang lain seneng terutama kedua orang tua...
Pos ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s